Kamis, 08 Januari 2015

makalah psikologi tentang tindak kekerasan anak pelajar

STUDI KASUS
TINDAK KEKERASAN SISWI SMU SWASTA DI MALANG
Makalah ini Disusun Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Psikologi Umum I
Dosen Pengampu:

                                                                                                         





Disusun oleh :
Daud Iqbal Asyifa (933414014)


PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
JURUSAN USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KEDIRI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Perilaku dari seorang individu tidaklah timbul dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari sebuah rangsang atau stimulus yang memapar diri individu tersebut. Perilaku atau aktivitas tersebut merupakan hasil atau respons dari rangsang yang mengenainya baik secara langsung atau tidak langsung. Setiap individu memiliki kepekaan terhadap rangsang yang berbeda-beda dan memberikan respon rangsang yang berbeda-beda pula.
Tingkat kepekaan dan respon terhadap rangsang dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan berpikir dari individu tersebut. Kedewasaan berpikir biasanya dipengaruhi oleh umur dan pengertian yang diberikan oleh lingkungannya. Oleh karena itu, setiap individu memiliki karakteristik kepribadian yang unik, yang membedakan dirinya dengan individu yang lainnya.
Tingkat remaja merupakan kondisi yang rentan dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian. Dalam periode remaja ini, individu memiliki tingkat emosi yang tinggi dibandingkan dengan masa setelahnya. Remaja tidak menggunakan kedewasaan berfikir untuk menyelesaikan sebuah masalah dan problematika hidup yang dialaminya. Seperti halnya kasus yang terjadi di SMU Swasta Malang, yaitu terjadinya tindakan kekerasan antar siswi-siswi yang akan menjadi pembahasan dan pembelajaran kami dalam memahami pembentukan perilaku.






B.            Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat kami susun rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pandangan kasus tindak kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan Teori Pembentukan Perilaku?
2.      Bagaimana pandangan kasus tindak kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan Teori Hubungan Manusia dengan Lingkungan?
3.      Bagaimana pandangan kasus tindak kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan sisi Perkembangan Psikologis Remaja?
4.      Bagaimana tindakan pencegahan yang dapat dilakukan terhadap kasus tindak kekerasan siswi SMU Swasta di Malang?



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Teori Pembentukan Perilaku
Perilaku manusia sebagian besar merupakan hasil dari pembentukan dan pembelajaran. Terdapat tiga cara pembentukan perilaku, sebagai berikut:
a.    Kondisioning atau Kebiasaan
Menurut Pavlov, Thorndike dan Skinner, dengan membiasakan individu untuk berperilaku seperti yang diharapkan secara kontinyu dan terus-menerus maka akan membentuk sebuah perilaku. 
b.    Pengertian (insight)
Berdasarkan atas teori belajar kognitif dan eksperimen Kohler, pembentukan perilaku seorang individu dapat dilakukan dengan memberikan sebuah pengertian atau insight. Contohnya, memberikan pengertian bahwa saat mengendarai motor haruslah memakai helm sebagai keamanan diri.
c.       Menggunakan Model
Pembentukan perilaku menggunakan model didasarkan pada teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura. Contohnya, orang tua dijadikan model atau contoh oleh anak-anaknya untuk membentuk perilakunya.[1]

Perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu itu berada. Perilaku manusi didorong oleh sebuah motif tertentu sehingga manusia berperilaku. Beberapa teori pembentukan perilaku, yaitu:
a.    Teori Insting
Teori ini dikemukakan oleh McDougall, sebagai pelopor dari psikologi sosial. Menurut McDougall, perilaku manusia diperolehnya dari sebuah insting. Insting merupakan perilaku yang innate, perilaku bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman. 
b.    Teori Dorongan (drive theory)
Teori ini berdasarkan pada pandangan bahwa individu itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan ini berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme dalam berperilaku. Jika individu memiliki kebutuhan dan ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri individu tersebut. Namun, individu tersebut dapat memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut.

c.       Teori Insentif (incentive theory)
Perilaku individu didasarkan pada adanya insentif yang mendorongnya untuk berperilaku. Insentif atau reinforcement kadang berupa positif dan kadang negatif. Reinforcement positif yaitu berkaitan dengan hadiah yang kan mendorong individu untuk berbuat sesuatu, dan reinforcement negatif berupa hukuman yang akan menghambat individu berperilaku.

d.        Teori Atribusi
Perilaku individu didasarkan pada disposisi internal, seperti motif, sikap dan lain sebagainya, atau didasarkan pada disposisi eksternal.

e.       Teori Kognitif
Individu akan melakukan sebuah tindakan berdasarkan manfaat yang didapatnya melalui proses berfikir dan menimbang.[2]

B.            Teori Hubungan Manusia dengan Lingkungan
Kehidupan manusia dengan lingkungan mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan ini sangat tergantung dan dipengaruhi oleh pandangan manusia terhadap lingkungan hidup tersebut. Ada beberapa teori tentang pandangan manusia terhadap lingkungan hidup yaitu :


1.      Antroposentrisme
Menempatkan manusia sebagai pusat, semuanya demi kepentingan manusia. Teori ini juga disebut human centered ethic, yaitu alam sebagai object dan alat untuk pencapaian tujuan manusia. Manusia bisa sesukanya untuk berbuat dan mengendalikan alam demi kepentingan dirinya. Alam dianggap penting kalau menguntungkan manusia akan tetap dipelihara, namun bila tidak penting dan demi kepentingan manusia, alam bisa dihancurkan. Teori ini yang menyebabkan kehancuran alam, hutan, dan lingkungan , sehinga muncullah gerakan untuk melindungi lingkungan alam, yaitu gerakan green peace.
2.      Biosentrisme
a.       Menempatkan alam memiliki nilai dalam dirinya. Teori ini bertentangan dengan Antroposentrisme.
b.      Biosentrisme mendasari moralitas pada keluhuran kehidupan kepada semua mahluk hidup, tidak hanya manusia. Semua kehidupan di dunia ini memiliki moral dan nilai yang sama sehingga harus dilindungi, diselamatkan dan dipelihara sebaik mungkin.
c.       Semua mahluk hidup bernilai dalam kehidupan untuk itu semua mahluk hidup, apalagi manusia harus menjaga dan melindungi semua kehidupan dan lingkungan di sekitarnya
d.      Manusia bukan merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan
e.       Manusia bukan merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan sama pentingnya sehingga manusia harus menghargai lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya, dan turut melestarikan komunitas ekologis dengan baik.
f.       Biosentrisme disebut juga intermediate environmental ethics.

3.      Ekosentrisme
a.       Teori ini merupkan lanjutan dari Biosentrisme. Dalam Biosentrisme hanya memusatkan kepada pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme memusatkan perhatian kepada seluruh komunitas biologis yang hidup maupun yang tidak.
b.      Pandangan ini didasari oleh pemahaman ekologis bahwa mahluk hidup maupun benda abiotik saling terkait satu sama lainnya.  Udara,air sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
c.       Untuk itu semua mahluk hidup dan benda-benda saling tergantung  dan mempengaruhi satu dengan lainnya.
d.      Ekosentrime memliki pandangan yang lebih luas yaitu komunitas ekologis seluruhnya. Ekosentrisme menuntut tanggungjawab moral yang sama untuk semua realitas biologis.
e.       Ekosentrime juga disebut deep environmental ethics.
Tanggung jawab terhadap lingkungan hidup yaitu:
a.       Manusia bertanggung jawab terhadap pemeliharaan lingkungan hidup, karena bila ekosistem terganggu maka akan menggangu eksistensi manusia. Untuk itu menusia harus dapat menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
b.      Memelihara dan melestarikan lingkungan hidup bukan hanya sekedar masalah sosial, ekonomi, politik, estetika, dan lain sebagainya, namun lebih daripada itu, masalah lingkungan hidup yaitu masalah moral sehingga dituntut pertanggung jawaban moral. Untuk itu perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab sebagai suatu kewajiban bahkan kebutuhan manusia dalam hidupnya.[3]

C.           Perkembangan Psikologi Remaja
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun (masa remaja awal), 15 – 18 tahun (masa remaja pertengahan), dan 18 – 21 tahun (masa remaja akhir).

Fase remaja adalah periode kehidupan manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak luas bagi perkembangan berikutnya. Pada remaja awal, pertumbuhan fisiknya sangat pesat tetapi tidak proporsional, misalnya pada hidung, tangan, dan kaki. Pada remaja akhir,proporsi tubuh mencapai ukuran tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya. Pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan pada usia 12–20 tahun secara fungsional, perkembangan kognitif (kemampuan berfikir) remaja dapat digambarkan sebagai berikut:

1.      Secara intelektual remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak.
2.      Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah.
3.      Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak.
4.      Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis.
5.      Memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya. psikologi remaja
6.      Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi.
7.      Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri).
D.           Analisis Kasus Tindak Kekerasan Siswi SMU Swasta Di Malang
1.      Penyebab dan motif tindakan kekerasan
Dari informasi yang  kami dapatkan, bahwa penyebab dan motif dari tindakan kekerasan antar siswi SMU Swasta di Malang adalah:
a.       Luapan kemarahan yang tidak terkontrol.
b.      Adanya miss comunication diantara para siswi yang melakukan tindak kekerasan.
c.       Adanya kesalahan persepsi.
d.      Tidak adanya penengah yang menjembatani para siswi untuk saling memahami permasalahan secara baik.
e.       Timbulnya rasa kebencian karena sebatas dugaan saja.
2.      Analisis tindakan kekerasan berdasarkan teori pembentukan prilaku
a.       Kondisioning atau Kebiasaan
Siswi-siswi dibiasakan dalam kondisi yang keras dan kurang adanya rasa pengertian. Siswi-siswi tidak dibiasakan untuk menyelesaikan masalah secara baik baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan diluar keluarga.
b.      Pengertian (insight)
Siswi-siswi tidak mendapatkan pengertian yang mendalam dalam hal bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik. Siswi-siswi kurang mendapatkan pengetian bahwa tindakan kekerasan yang dilakukannya adalah hal yang buruk dan tidak boleh dilakukan.
c.       Menggunakan Model
Siswi-siswi tidak mendapatkan pembelajaran dengan model yang berperilaku baik dilingkungannya. Siswi-siswi terbiasa melihat model yang berperilaku anarkis, sehingga mereka meniru perilaku anarkis tersebut dalam kehidupannya.
3.      Analisis tindakan kekerasan berdasarkan teori hubungan manusia dengan lingkungan
a.       Antroposentrisme
Tindakan siswi-siswi berlaku sesuai dengan apa yang dianggapnya menguntungkan bagi dirinya sehingga tidak memikirkan kehancuran yang dapat terjadi dari tindakan yang dilakukannya.
b.      Biosentrisme
Siswi-siswi tidak memikirkan keperdulianya terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial terhadap individu lain, sehingga mereka melakukan tindakan kekerasan tanpa merasa bersalah terhadap lingkungannya.
c.       Ekosentrisme
Siswi-siswi tidak memperhatikan tentang kelangsungan hidup dari ekosistem yang luas, yang harus dijaga dan dipertahankan keasliannya.
E.            Cara Pencegahan Agar Remaja tidak Melakukan Kriminalitas
1.      Peranan keluarga
Keluarga adalah faktor utama yang dapat mempengaruhi suatu tingkah laku yang akan dilakukan oleh remaja. Jadi, sangatlah penting bagi keluarga untuk memberi aturan terhadap anak remaja. Masa remaja ialah masa dimana individu mengenal suatu hal yang baru namun belum memiliki kedewasaan berfikir. Andai saja dari pihak keluarga tidak memberikan aturan, bisa dipastikan anak remaja tersebut akan menyeleweng.
2.      Peranan lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi tindak kriminal yang dilakukan oleh para remaja, seperti yang telah dikatakan diatas bahwa masa remaja ialah masa meniru dan  mayoritas masalah yang berdampak buruk pada remaja dikarenakan ajakan teman. Seorang teman dapat mempengaruhi hingga melakukan hal yang negatif. Menjauhi teman yang selalu berprilaku buruk adalah solusi utama untuk menghindari tindakan negatif.
3.      Peranan sekolah
Sekolah sangat penting untuk mengontrol tindakan remaja, karena penanaman etika dan moral selain dilakukan dalam keluarga juga dilakukan dalam sekolah. Selain itu sisi lain kegunaan dari sekolah ialah meningkatkan rasa sosialisme antar remaja agar remaja dapat saling memberikan pengertian satu sama lain.







BAB III
PENUTUP
Perilaku manusia sebagian besar merupakan hasil dari pembentukan dan pembelajaran.  Cara-cara  pembentukan prilaku tersebut diantaranya melalui proses kondisioning atau kebiasaan,  pengertian (insight), dan menggunakan model. Perilaku manusia juga tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu itu berada. Hal ini dijelaskan dalam beberapa teori pembentukan perilaku, yaitu teori insting, teori dorongan (drive theory), teori atribusi, dan teori kognitif.
Tindak kekerasan yang terjadi pada siswi-siswi SMU Swasta di Malang merupakan hasil dari pembentukan prilaku yang kurang terkontrol baik kontrol dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan bermainnya. Dengan adanya kontrol, maka perilaku siswi-siswi lebih terkondisi dan tidak akan melakukan tindakan yang hanya didasarkan pada emosi dan kemarahan. Tindakan yang terkontrol akan menciptakan perilaku berdasarkan pada pemikiran yang mendalam serta didasari pada rasa tanggung jawab pada lingkungan serta ekosistem yang berjalan.
Tindakan kekerasan yang mengacu pada kriminalitas harus dicegah agar tidak ada hal yang serupa terjadi kembali. Pencegahan dapat dilakukan dengan adanya kontrol dan dorongan dari lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan remaja, dan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang memberikan pengajaran norma-norma dan pola pikir yang baik.



DAFTAR PUSTAKA

Wawan Junaidi. 2009. Cara Mengatasi Kenakalan Remaja (online). (http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/cara-mengatasi-kenakalan-remaja.html , diakses tanggal 18 Oktober 2014)

C.George Boeree. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anak Bersama Psikologi Dunia. Yogyakarta: Prismashopie.hlm 240

Dr. Hendrianti Agustiani. 2006. Psikologi Perkembangan. Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuain Diri pada Remaja: PT Refika Aditama. Hlm28-30

Maharani.2011. Peran Orangtua dalam Mencegah Tindak Kriminalitas Remaja (online). (http://maharani.blogspot.com/2011/03/peran-orang-tua.html , diakses tanggal 18 Oktober 2014)

Prof. Dr. Bimo Walgito. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta. CV ANDI OFFSET



[1] Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. Andi obsed . 2010
[2] Davies, G., Hollin, C.,& Bull, R. (2008). Forensik Psychology. John Wiley; Sussex

Tidak ada komentar:

Posting Komentar