STUDI KASUS
TINDAK
KEKERASAN SISWI SMU SWASTA DI MALANG
Makalah ini Disusun Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah
Psikologi
Umum I
Dosen
Pengampu:
Disusun
oleh :
Daud
Iqbal Asyifa (933414014)
PROGRAM
STUDI PSIKOLOGI ISLAM
JURUSAN
USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KEDIRI

BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Perilaku dari seorang
individu tidaklah timbul dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari sebuah
rangsang atau stimulus yang memapar diri individu tersebut. Perilaku atau
aktivitas tersebut merupakan hasil atau respons dari rangsang yang mengenainya
baik secara langsung atau tidak langsung. Setiap individu memiliki kepekaan
terhadap rangsang yang berbeda-beda dan memberikan respon rangsang yang
berbeda-beda pula.
Tingkat kepekaan dan
respon terhadap rangsang dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan berpikir dari
individu tersebut. Kedewasaan berpikir biasanya dipengaruhi oleh umur dan
pengertian yang diberikan oleh lingkungannya. Oleh karena itu, setiap individu
memiliki karakteristik kepribadian yang unik, yang membedakan dirinya dengan
individu yang lainnya.
Tingkat remaja
merupakan kondisi yang rentan dalam proses pembentukan perilaku dan
kepribadian. Dalam periode remaja ini, individu memiliki tingkat emosi yang
tinggi dibandingkan dengan masa setelahnya. Remaja tidak menggunakan kedewasaan
berfikir untuk menyelesaikan sebuah masalah dan problematika hidup yang
dialaminya. Seperti halnya kasus yang terjadi di SMU Swasta Malang, yaitu
terjadinya tindakan kekerasan antar siswi-siswi yang akan menjadi pembahasan
dan pembelajaran kami dalam memahami pembentukan perilaku.
B.
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat
kami susun rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana pandangan kasus tindak
kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan Teori Pembentukan Perilaku?
2.
Bagaimana pandangan kasus tindak
kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan Teori Hubungan Manusia dengan
Lingkungan?
3.
Bagaimana pandangan kasus tindak
kekerasan siswi SMU Swasta di Malang berdasarkan sisi Perkembangan Psikologis
Remaja?
4.
Bagaimana tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan terhadap kasus tindak kekerasan siswi SMU Swasta di Malang?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Teori
Pembentukan Perilaku
Perilaku manusia
sebagian besar merupakan hasil dari pembentukan dan pembelajaran. Terdapat tiga
cara pembentukan perilaku, sebagai berikut:
a. Kondisioning
atau Kebiasaan
Menurut Pavlov,
Thorndike dan Skinner, dengan membiasakan individu untuk berperilaku seperti
yang diharapkan secara kontinyu dan terus-menerus maka akan membentuk sebuah
perilaku.
b. Pengertian
(insight)
Berdasarkan atas teori
belajar kognitif dan eksperimen Kohler, pembentukan perilaku seorang individu
dapat dilakukan dengan memberikan sebuah pengertian atau insight. Contohnya, memberikan pengertian bahwa saat mengendarai
motor haruslah memakai helm sebagai keamanan diri.
c. Menggunakan
Model
Pembentukan perilaku
menggunakan model didasarkan pada teori belajar sosial (social learning theory) atau observational
learning theory yang dikemukakan oleh Bandura. Contohnya, orang tua
dijadikan model atau contoh oleh anak-anaknya untuk membentuk perilakunya.[1]
Perilaku manusia tidak
dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu
itu berada. Perilaku manusi didorong oleh sebuah motif tertentu sehingga
manusia berperilaku. Beberapa teori pembentukan perilaku, yaitu:
a.
Teori Insting
Teori ini dikemukakan
oleh McDougall, sebagai pelopor dari psikologi sosial. Menurut McDougall,
perilaku manusia diperolehnya dari sebuah insting. Insting merupakan perilaku
yang innate, perilaku bawaan, dan
insting akan mengalami perubahan karena pengalaman.
b. Teori
Dorongan (drive theory)
Teori ini berdasarkan
pada pandangan bahwa individu itu mempunyai dorongan-dorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan ini
berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme dalam berperilaku. Jika individu
memiliki kebutuhan dan ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan
dalam diri individu tersebut. Namun, individu tersebut dapat memenuhi
kebutuhannya maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan
tersebut.
c.
Teori Insentif (incentive theory)
Perilaku individu
didasarkan pada adanya insentif yang mendorongnya untuk berperilaku. Insentif
atau reinforcement kadang berupa
positif dan kadang negatif. Reinforcement
positif yaitu berkaitan dengan hadiah yang kan mendorong individu untuk
berbuat sesuatu, dan reinforcement negatif
berupa hukuman yang akan menghambat individu berperilaku.
d.
Teori Atribusi
Perilaku individu didasarkan pada
disposisi internal, seperti motif, sikap dan lain sebagainya, atau didasarkan
pada disposisi eksternal.
e. Teori
Kognitif
Individu akan melakukan sebuah tindakan
berdasarkan manfaat yang didapatnya melalui proses berfikir dan menimbang.[2]
B.
Teori
Hubungan Manusia dengan Lingkungan
Kehidupan manusia dengan lingkungan mempunyai hubungan yang sangat erat.
Hubungan ini sangat tergantung dan dipengaruhi oleh pandangan manusia terhadap
lingkungan hidup tersebut. Ada beberapa teori tentang pandangan manusia
terhadap lingkungan hidup yaitu :
1.
Antroposentrisme
Menempatkan
manusia sebagai pusat, semuanya demi kepentingan manusia. Teori ini juga
disebut human centered ethic, yaitu alam sebagai object dan alat untuk
pencapaian tujuan manusia. Manusia bisa sesukanya untuk berbuat dan
mengendalikan alam demi kepentingan dirinya. Alam dianggap penting kalau
menguntungkan manusia akan tetap dipelihara, namun bila tidak penting dan demi
kepentingan manusia, alam bisa dihancurkan. Teori ini yang menyebabkan
kehancuran alam, hutan, dan lingkungan , sehinga muncullah gerakan untuk
melindungi lingkungan alam, yaitu gerakan green
peace.
2.
Biosentrisme
a.
Menempatkan alam
memiliki nilai dalam dirinya. Teori ini bertentangan dengan Antroposentrisme.
b.
Biosentrisme
mendasari moralitas pada keluhuran kehidupan kepada semua mahluk hidup, tidak
hanya manusia. Semua kehidupan di dunia ini memiliki moral dan nilai yang sama
sehingga harus dilindungi, diselamatkan dan dipelihara sebaik mungkin.
c.
Semua mahluk
hidup bernilai dalam kehidupan untuk itu semua mahluk hidup, apalagi manusia
harus menjaga dan melindungi semua kehidupan dan lingkungan di sekitarnya
d.
Manusia bukan
merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan
e.
Manusia bukan
merupakan pusat dari kehidupan, semua kehidupan sama pentingnya sehingga
manusia harus menghargai lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya, dan turut
melestarikan komunitas ekologis dengan baik.
f.
Biosentrisme
disebut juga intermediate environmental ethics.
3.
Ekosentrisme
a.
Teori ini
merupkan lanjutan dari Biosentrisme. Dalam Biosentrisme hanya memusatkan kepada
pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme memusatkan perhatian kepada seluruh
komunitas biologis yang hidup maupun yang tidak.
b.
Pandangan ini
didasari oleh pemahaman ekologis bahwa mahluk hidup maupun benda abiotik saling
terkait satu sama lainnya. Udara,air sangat berpengaruh terhadap
kehidupan manusia.
c.
Untuk itu semua
mahluk hidup dan benda-benda saling tergantung dan mempengaruhi satu
dengan lainnya.
d.
Ekosentrime
memliki pandangan yang lebih luas yaitu komunitas ekologis seluruhnya.
Ekosentrisme menuntut tanggungjawab moral yang sama untuk semua realitas
biologis.
e.
Ekosentrime juga
disebut deep environmental ethics.
Tanggung jawab terhadap lingkungan hidup yaitu:
a.
Manusia
bertanggung jawab terhadap pemeliharaan lingkungan hidup, karena bila ekosistem
terganggu maka akan menggangu eksistensi manusia. Untuk itu menusia harus dapat
menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.
b.
Memelihara dan
melestarikan lingkungan hidup bukan hanya sekedar masalah sosial, ekonomi,
politik, estetika, dan lain sebagainya, namun lebih daripada itu, masalah
lingkungan hidup yaitu masalah moral sehingga dituntut pertanggung jawaban
moral. Untuk itu perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab sebagai suatu
kewajiban bahkan kebutuhan manusia dalam hidupnya.[3]
C.
Perkembangan
Psikologi Remaja
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan
masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki
masa dewasa. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu
12 – 15 tahun (masa remaja awal), 15 – 18 tahun (masa remaja pertengahan), dan
18 – 21 tahun (masa remaja akhir).
Fase remaja
adalah periode kehidupan manusia yang sangat strategis, penting dan berdampak
luas bagi perkembangan berikutnya. Pada remaja awal, pertumbuhan fisiknya
sangat pesat tetapi tidak proporsional, misalnya pada hidung, tangan, dan kaki.
Pada remaja akhir,proporsi tubuh mencapai ukuran tubuh orang dewasa dalam semua
bagiannya. Pertumbuhan otak mencapai
kesempurnaan pada usia 12–20 tahun secara fungsional, perkembangan kognitif
(kemampuan berfikir) remaja dapat digambarkan sebagai berikut:
1.
Secara intelektual
remaja mulai dapat berfikir logis tentang gagasan abstrak.
2.
Berfungsinya kegiatan
kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat
keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah.
3.
Sudah mampu
menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak.
5.
Memikirkan masa depan,
perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya. psikologi
remaja
7.
Wawasan berfikirnya
semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati
diri).
D.
Analisis Kasus Tindak Kekerasan Siswi SMU Swasta Di Malang
1.
Penyebab dan motif
tindakan kekerasan
Dari informasi yang
kami dapatkan, bahwa penyebab dan motif dari tindakan kekerasan antar
siswi SMU Swasta di Malang adalah:
a.
Luapan kemarahan yang
tidak terkontrol.
b.
Adanya miss
comunication diantara para siswi yang melakukan tindak kekerasan.
c.
Adanya kesalahan
persepsi.
d.
Tidak adanya penengah
yang menjembatani para siswi untuk saling memahami permasalahan secara baik.
e.
Timbulnya rasa
kebencian karena sebatas dugaan saja.
2.
Analisis tindakan
kekerasan berdasarkan teori pembentukan prilaku
a.
Kondisioning atau Kebiasaan
Siswi-siswi
dibiasakan dalam kondisi yang keras dan kurang adanya rasa pengertian.
Siswi-siswi tidak dibiasakan untuk menyelesaikan masalah secara baik baik
dilingkungan keluarga maupun lingkungan diluar keluarga.
b.
Pengertian (insight)
Siswi-siswi
tidak mendapatkan pengertian yang mendalam dalam hal bagaimana menyelesaikan
masalah dengan baik. Siswi-siswi kurang mendapatkan pengetian bahwa tindakan kekerasan
yang dilakukannya adalah hal yang buruk dan tidak boleh dilakukan.
c.
Menggunakan Model
Siswi-siswi
tidak mendapatkan pembelajaran dengan model yang berperilaku baik
dilingkungannya. Siswi-siswi terbiasa melihat model yang berperilaku anarkis,
sehingga mereka meniru perilaku anarkis tersebut dalam kehidupannya.
3.
Analisis tindakan
kekerasan berdasarkan teori hubungan manusia dengan lingkungan
a.
Antroposentrisme
Tindakan
siswi-siswi berlaku sesuai dengan apa yang dianggapnya menguntungkan bagi
dirinya sehingga tidak memikirkan kehancuran yang dapat terjadi dari tindakan
yang dilakukannya.
b.
Biosentrisme
Siswi-siswi
tidak memikirkan keperdulianya terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial
terhadap individu lain, sehingga mereka melakukan tindakan kekerasan tanpa
merasa bersalah terhadap lingkungannya.
c.
Ekosentrisme
Siswi-siswi
tidak memperhatikan tentang kelangsungan hidup dari ekosistem yang luas, yang
harus dijaga dan dipertahankan keasliannya.
E.
Cara Pencegahan Agar Remaja tidak Melakukan Kriminalitas
1.
Peranan keluarga
Keluarga adalah faktor utama
yang dapat mempengaruhi suatu tingkah laku yang akan dilakukan oleh remaja.
Jadi, sangatlah penting bagi keluarga untuk memberi aturan terhadap anak remaja.
Masa remaja ialah masa dimana individu mengenal suatu hal yang baru namun belum
memiliki kedewasaan berfikir. Andai saja dari pihak keluarga tidak memberikan
aturan, bisa dipastikan anak remaja tersebut akan menyeleweng.
2.
Peranan lingkungan
Lingkungan sangat
mempengaruhi tindak kriminal yang dilakukan oleh para remaja, seperti yang
telah dikatakan diatas bahwa masa remaja ialah masa meniru dan mayoritas masalah yang berdampak buruk pada
remaja dikarenakan ajakan teman. Seorang teman dapat mempengaruhi hingga
melakukan hal yang negatif. Menjauhi teman yang selalu berprilaku buruk adalah
solusi utama untuk menghindari tindakan negatif.
3.
Peranan sekolah
Sekolah sangat penting untuk
mengontrol tindakan remaja, karena penanaman etika dan moral selain dilakukan
dalam keluarga juga dilakukan dalam sekolah. Selain itu sisi lain kegunaan dari
sekolah ialah meningkatkan rasa sosialisme antar remaja agar remaja dapat
saling memberikan pengertian satu sama lain.
BAB III
PENUTUP
Perilaku manusia
sebagian besar merupakan hasil dari pembentukan dan pembelajaran. Cara-cara pembentukan prilaku tersebut diantaranya
melalui proses kondisioning atau kebiasaan,
pengertian (insight), dan
menggunakan model. Perilaku manusia juga tidak dapat lepas dari keadaan
individu itu sendiri dan lingkungan di mana individu itu berada. Hal ini
dijelaskan dalam beberapa teori pembentukan perilaku, yaitu teori insting, teori
dorongan (drive theory), teori atribusi,
dan teori kognitif.
Tindak kekerasan yang
terjadi pada siswi-siswi SMU Swasta di Malang merupakan hasil dari pembentukan prilaku
yang kurang terkontrol baik kontrol dari lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah ataupun lingkungan bermainnya. Dengan adanya kontrol, maka perilaku
siswi-siswi lebih terkondisi dan tidak akan melakukan tindakan yang hanya
didasarkan pada emosi dan kemarahan. Tindakan yang terkontrol akan menciptakan
perilaku berdasarkan pada pemikiran yang mendalam serta didasari pada rasa
tanggung jawab pada lingkungan serta ekosistem yang berjalan.
Tindakan kekerasan yang
mengacu pada kriminalitas harus dicegah agar tidak ada hal yang serupa terjadi
kembali. Pencegahan dapat dilakukan dengan adanya kontrol dan dorongan dari
lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang paling dekat dengan remaja, dan lingkungan
sekolah sebagai lingkungan yang memberikan pengajaran norma-norma dan pola
pikir yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Wawan
Junaidi. 2009. Cara Mengatasi Kenakalan Remaja (online). (http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/cara-mengatasi-kenakalan-remaja.html , diakses tanggal 18 Oktober 2014)
C.George
Boeree. 2008. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anak Bersama Psikologi
Dunia. Yogyakarta: Prismashopie.hlm 240
Dr.
Hendrianti Agustiani. 2006. Psikologi Perkembangan. Pendekatan Ekologi
Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuain Diri pada Remaja: PT Refika
Aditama. Hlm28-30
Maharani.2011.
Peran Orangtua dalam Mencegah Tindak Kriminalitas Remaja (online). (http://maharani.blogspot.com/2011/03/peran-orang-tua.html , diakses tanggal 18 Oktober 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar